Rabu, 05 Juli 2023

Media Sosial

 Di media sosial itu

Mereka begitu gembiranya membebaskan prasangka-prasangka

Tanpa pernah mau tahu, apalagi peduli

Efek domino yang segaris dengan dosa jariyah. Yang permintaan maaf pun belum tentu sanggup menghapus semua bekasnya.

Bisakah membicarakan permasalahan seseorang di media sosial?

Media turut menyumbang kesalahan ini.

Padahal semua yang dibicarakan baru sekadar praduga.

Bahkan yang sudah terjadi pun belum tentu demikian kejadiannya, sebab kebenaran adalah subjektivitas. Yang dalam ilmu linguistik termasuk dalam deret penanda kosong. Siapa pun memiliki definisi dan versi kebenaran masing-masing, sesuai kadar ilmu masing-masing. Maka dalam itu, membicarakan orang lain, menuduh orang lain, dalam media sosial, adalah sama dengan mengabaikan hak orang lain. Pembicaraan yang dilakukan secara terus-menerus, tanpa tabayun, akan menutup kebenaran. Tidakkah ini mengerikan? Oh, tentu saja tidak bagi para penguasa media sosial.

Berbahagialah bagi yang kuat memegang prinsip.

 Bahwa segala penyakit memang seringkali berupa yang keluar dari dan masuk ke mulut.


Kamis, 13 April 2023

Orang Jenius

 Siapa sih orang jenius itu? Tanya Anji Drive.


Tidak ada orang "jenius".

Orang jenius adalah orang yang paling banyak referensinya.


~Raim Laode, dalam wawancara Podcast Dunia MANJI

Kamis, 20 Mei 2021

Belenggu Antroposentrisme

 

Belenggu Antroposentrisme

 

 



Judul Buku  :  Rokat Tase

Penulis        :  Muna Masyari

Penerbit       :  Penerbit Buku Kompas

Cetakan       :  Pertama, 2020

Tebal           :  177 halaman

ISBN           :  978-623-241-207-1

 

Selasa, 04 Mei 2021

Judul: Hanya Firman Tuhan

Penerbit: SIP Publishing, Banyumas

Tahun Terbit; Maret, 2021

Harga; 65 ribu

Dimensi; 13 X 19 cm, ix + 180 hal

ISBN; 978-623-337-076-9

Minggu, 02 Mei 2021

Antara Buku-Buku Gramedia, Aku, dan Cita-Cita yang Absurd Itu

 

 


 

Mengapa judul tulisan bebas ini saya beri judul sepanjang kereta api? Ya, lantaran isinya juga sama. Perihal cita-cita. Menurutku cita-cita adalah sesuatu yang panjang. Sesuatu yang tak pernah akan selesai.

Tidak percaya? Hehe, boleh-boleh saja. Boleh jadi, dirimu memang sudah meraih apa yang kau cita-citakan 5 tahun, 8 tahun, 10 tahun, atau bahkan 15 tahun silam. Aku dulu juga pernah seperti itu. Ingin tahu apa cita-citaku dulu—sewaktu aku masih SD?

 

Selasa, 27 Oktober 2020

Karpet Merah

 

Karpet Merah

 


Kita mungkin sudah tak asing lagi dengan penggunaan frasa ‘karpet merah’ yang sering diasosiasikan sebagai jalur atau jalan yang dikhususkan bagi para elit dalam sebuah acara resmi. Setidaknya demikianlah yang telah menjadi budaya dalam beberapa acara-acara resmi semacam OSCAR atau penyambutan para tamu penting yang bersifat protokoler.

Selasa, 21 Juli 2020

Masa Depan Hancur?


Masa Depan; Hancur?




Beberapa waktu silam, ketika berita perundungan seorang siswi SMU yang dilakukan oleh kawan-kawannya sendiri—hingga merusak keperawanannya, merebak di media sosial, beragam tanggapan/status dan komentar pun bermunculan pula di media sosial. Beberapa status tanggapan di media sosial itu mengatakan bahwa para siswi tersebut telah merusak dan menghancurkan masa depan korban perundungan dan pelecehan tersebut.

Minggu, 31 Mei 2020

Kesalahan Bahasa (yang Dimaklumi?)


Kesalahan Bahasa (yang Dimaklumi)?




Jika Anda berkendara di jalanan, mungkin dengan mudahnya akan menemukan frasa ‘cucian motor/mobil’, ‘warung makan’, dan setipenya. Pernahkah Anda berpikir bahwa sebenarnya ada kejanggalan dalam frasa tersebut? Imbuhan ‘-an’ dalam “cucian motor” yang seharusnya memiliki arti hasil dari proses mencuci, justru digunakan untuk menunjuk pada tempat pencucian motor. Frasa ‘warung makan’ juga tidak berarti warungnya (yang sedang) makan. Tetapi lebih kepada pengertian warung tempat memesan makanan. Namun lantaran kita (dianggap) sudah mafhum tentang maksud dari sang pemasang tulisan tersebut, jadilah semuanya terasa/dianggap wajar dan benar.

Sabtu, 30 Mei 2020

Dan Pembaca pun Boleh Bosan


Dan Pembaca pun Boleh Bosan



Awal tahun 2000-an boleh dibilang adalah era masa gemilangnya buku-buku fiksi islami. Dipelopori oleh majalah remaja Annida, sebuah media yang banyak memberikan jalan bagi para penulisnya untuk mengenalkan apa itu yang disebut sebagai sastra islami. Di majalah remaja inilah banyak bermunculan penulis-penulis yang sekarang namanya dikenal sebagai ‘pabrik’ fiksi islami—meski sebagiannya kemudian menyeberang ke sastra arus utama. Pada era itu pula banyak penerbit mulai membuka lini fiksi islami. Namun tujuh belas tahun kemudian (1992-2009), seiring dengan meredupnya booming fiksi islami, majalah ini pun akhirnya harus rela mengubur diri dalam dunia maya. Penyebabnya diduga tak lain dan tak bukan adalah jenuhnya pasar dalam merespons buku-buku berlabel fiksi islami. Sungguh ironi.

Selasa, 18 Februari 2020

Perihal Kematian Pengarang

Perihal Kematian Pengarang






Bagaimana pendapat Anda jika penulis yang selama ini karya-karyanya Anda kenal begitu romantis dan bertutur bahasa lembut namun kemudian secara langsung Anda melihatnya marah, berkata-kata tak senonoh, kotor, dan terasa begitu jauh dari apa yang Anda dapatkan dalam karya-karyanya? Apakah penulis fiksi harus selalu sama seperti (setidaknya) tokoh utama yang pernah dibuatnya?

Rabu, 29 Januari 2020

Menyanjung Diri Sendiri

MENYANJUNG DIRI SENDIRI



Ada banyak hal yang belum aku mengerti tentang segala sesuatu di sekitarku. Jika dirimu tahu jawabannya, tolong berbagilah denganku.

Salah satunya adalah hal berikut; Beberapa 'sastrawan', 'kritikus', dan entah siapa lagi sering mengatakan bahwa menulis sastra itu susah, menulis puisi, cerpen, novel (yang baik) itu susah. Benar-benar susah. Bagi dia yang tahu karya yang baik/bagus itu sukar dibuat, maka pekerjaan menulis itu memang susah.

Senin, 18 November 2019

Mencipta dan Membuat


Mencipta dan Membuat




Di dalam Al Quran, terdapat dua kata yang artinya hampir sama tapi sebenarnya berbeda. Untunglah kedua kata tersebut diterjemahkan dengan dua kata yang (sebenarnya) berbeda maknanya pula. ‘Khalaqa’ yang kemudian diterjemahkan dengan ‘menciptakan’ dan ‘ja’ala’ yang diterjemahkan sebagai ‘membuat’. Dua kata yang memiliki arti sama-sama memproses terjadinya sesuatu, namun memiliki perbedaan dalam perkara prosesnya. Dalam hal ini, dua kata tersebut masih saja disalahpahami maknanya sehingga menimbulkan kesalahan pula dalam pemakaiannya.

Selasa, 05 November 2019

Psikologi Bahasa


Psikologi Bahasa



Pernahkah kita memikirkan perihal; ‘Bahasakah yang memengaruhi psikologi kita, ataukah sebaliknya? bahwa kondisi psikologi akan sangat memengaruhi bahasa kita?’

Minggu, 27 Oktober 2019

Orisinalitas Ide, Adakah?


Orisinalitas Ide, Adakah?





Adakah ide yang orisinal?
Betapa seringnya pertanyaan krusial ini dilontarkan oleh penulis (sastra) yang saya kira terlalu sok suci dan hati-hati dalam mencari bahan tulisan. Seolah orisinalitas ide adalah syarat mutlak untuk membangun karya monumental. Bukankah jika begini, generasi paling belakang bisa dikatakan sebagai generasi paling malang—lantaran merekalah yang paling tidak orisinil? Sebab, mereka hanya melakukan tindakan pungut ide dari para pendahulu untuk kemudian dikembangkan sendiri.

Minggu, 29 September 2019

Petikan dari "Lauk dari Langit"nya Danarto

  

 ... ... ...

     "Apa yang dimaksud Allah dengan hujan ikan ini?" kata sang suami di dalam hati.
     "Apa yang dimaksud Allah dengan hujan ikan ini, tidak perlu kita ketahui," kata istrinya di dalam hati juga.
     "Mengapa tidak boleh kita ketahui?" kata suami di dalam hati.
     "Berkahnya akan berkurang," kata sang istri.
     "Mengapa berkahnya berkurang?"
     "Karena kita ingin mengetahui suatu rahasia, padahal bersyukur lebih baik."
     "Saya tidak mengerti."
     "Makanya lebih baik diam."
   ... ... ...

Kamis, 26 September 2019

Keluarga, Revolusi Media, dan Anak-Anak


Keluarga, Revolusi Media, dan Anak-Anak



Efek Revolusi Teknologi Digital
Apa yang diramalkan sosiolog Alvin Toffler dalam buku Future Shock pada 1970-an, tampaknya memang menjadi nyata. Pergeseran teknologi dari mekanik ke digital yang dimulai sejak dekade ’80-an, perlahan tapi pasti mulai menampakkan efek sampingnya.

Dari Pentingnya Budaya Literasi, Hoaks, Hingga AMJ


Dari Pentingnya Budaya Literasi, Hoaks, Hingga AMJ



Hoaks, Cermin Kurangnya Pendidikan Literasi
Dalam sebuah risetnya, lembaga konsultan politik Polmark Indonesia mendapati hasil survey (lokasi survey, Jakarta 2017) bahwa 60,8% dari responden yang disurvey mengaku pernah mendapatkan hoaks, dengan detail sebagai berikut; 3,1% mengaku sangat sering mendapatkan hoaks, 18,1 sering mendapatkan hoaks, 20,3% jarang mendapatkan hoaks, dan 19,3% sangat jarang mendapatkan hoaks. Realita tersebut diperparah dengan data berikutnya yang menggambarkan rendahnya upaya klarifikasi hoaks dan upaya penyebaran hasil upaya klarifikasi tersebut.

Jumat, 20 September 2019

Cerita Rakyat Sebagai Upaya Edukasi Kebencanaan


Cerita Rakyat Sebagai Upaya Edukasi Kebencanaan




Dikisahkan, ada sepasang muda-mudi yang tengah dirundung kasmaran. Kisah cinta mereka tak mendapatkan restu dari bapak si gadis dengan berbagai alasan. Namun diam-diam, tanpa sepengetahuan sang bapak, dua sejoli ini sebenarnya sering bertemu demi melepas rindu. Dalam sebuah kesempatan—ketika bapak si gadis diketahui bepergian dalam jangka waktu yang lama, sepasang kekasih ini memutuskan untuk bersama-sama menghabiskan rindu ke sebuah bukit yang tak jauh dari perkampungan mereka. Sebuah bukit yang sebenarnya jarang dikunjungi oleh warga lantaran telah dikenal keangkerannya. Di samping memang lokasinya yang berbahaya lantaran di kanan kiri jurang menganga siap menelan mereka jika tak waspada. Nun, dalam perjalanan itu, kenikmatan melepas kangen memang akhirnya menghilangkan kewaspadaan mereka. Dikisahkan, akhirnya salah satu dari mereka terperosok, sementara pasangannya turut jatuh saat berniat menolong.

Minggu, 28 Juli 2019

Rasa Bahasa



Rasa Bahasa


Dalam bahasa Jawa, dikenal tiga tingkatan berbahasa yang masing-masingnya memiliki fungsi, tempat, dan rasa bahasa yang berbeda. Tiga tingkatan itu tampaknya memang terbentuk dari, sekaligus mendukung budaya feodalisme Jawa yang bermuara dari sistem kerajaan.

Sabtu, 29 Juni 2019

Antara Gelar dan Profesi



Antara Gelar dan Profesi




 Dalam sebuah esainya, Bre Redana pernah membeber perihal makna ‘budayawan’ dan ‘sastrawan’ yang sebenarnya tak sesederhana seperti dalam pemahaman kebanyakan orang selama ini. Bahwa sebenarnya tak semua penulis sastra atau pelaku budaya pantas mendapatkan gelar atau panggilan yang megah itu. Gelar atau panggilan sastrawan sejatinya hanya pantas disandang oleh dia yang seumur hidupnya didedikasikan ke dalam dunia sastra, demikian pula ‘budayawan’ yang ‘total’ mendedikasikan hidupnya ke dalam ranah budaya. Gelar tersebut belumlah pantas disandang oleh mereka yang sekadar mampir apalagi coba-coba di kedua ranah bidang tersebut.