Tampilkan postingan dengan label Esai Sastra Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai Sastra Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Mei 2020

Dan Pembaca pun Boleh Bosan


Dan Pembaca pun Boleh Bosan



Awal tahun 2000-an boleh dibilang adalah era masa gemilangnya buku-buku fiksi islami. Dipelopori oleh majalah remaja Annida, sebuah media yang banyak memberikan jalan bagi para penulisnya untuk mengenalkan apa itu yang disebut sebagai sastra islami. Di majalah remaja inilah banyak bermunculan penulis-penulis yang sekarang namanya dikenal sebagai ‘pabrik’ fiksi islami—meski sebagiannya kemudian menyeberang ke sastra arus utama. Pada era itu pula banyak penerbit mulai membuka lini fiksi islami. Namun tujuh belas tahun kemudian (1992-2009), seiring dengan meredupnya booming fiksi islami, majalah ini pun akhirnya harus rela mengubur diri dalam dunia maya. Penyebabnya diduga tak lain dan tak bukan adalah jenuhnya pasar dalam merespons buku-buku berlabel fiksi islami. Sungguh ironi.

Selasa, 18 Februari 2020

Perihal Kematian Pengarang

Perihal Kematian Pengarang






Bagaimana pendapat Anda jika penulis yang selama ini karya-karyanya Anda kenal begitu romantis dan bertutur bahasa lembut namun kemudian secara langsung Anda melihatnya marah, berkata-kata tak senonoh, kotor, dan terasa begitu jauh dari apa yang Anda dapatkan dalam karya-karyanya? Apakah penulis fiksi harus selalu sama seperti (setidaknya) tokoh utama yang pernah dibuatnya?

Minggu, 27 Oktober 2019

Orisinalitas Ide, Adakah?


Orisinalitas Ide, Adakah?





Adakah ide yang orisinal?
Betapa seringnya pertanyaan krusial ini dilontarkan oleh penulis (sastra) yang saya kira terlalu sok suci dan hati-hati dalam mencari bahan tulisan. Seolah orisinalitas ide adalah syarat mutlak untuk membangun karya monumental. Bukankah jika begini, generasi paling belakang bisa dikatakan sebagai generasi paling malang—lantaran merekalah yang paling tidak orisinil? Sebab, mereka hanya melakukan tindakan pungut ide dari para pendahulu untuk kemudian dikembangkan sendiri.

Kamis, 26 September 2019

Keluarga, Revolusi Media, dan Anak-Anak


Keluarga, Revolusi Media, dan Anak-Anak



Efek Revolusi Teknologi Digital
Apa yang diramalkan sosiolog Alvin Toffler dalam buku Future Shock pada 1970-an, tampaknya memang menjadi nyata. Pergeseran teknologi dari mekanik ke digital yang dimulai sejak dekade ’80-an, perlahan tapi pasti mulai menampakkan efek sampingnya.

Minggu, 21 Oktober 2018

Laporan Pertanggungjawaban Penjurian Lomba Penulisan Artikel (Esai) SMANSARA



Laporan Pertanggungjawaban Penjurian Lomba Penulisan Artikel (Esai) SMANSARA





Menuliskan kembali pengalaman empiris seringkali memiliki kelebihan tersendiri. Di samping tinggal menggali ingatan sendiri, materi yang disampaikan juga terbilang dekat dengan dunia penulisnya sendiri sehingga naskah yang dihasilkan pun lebih detail, ‘bernyawa’, luwes, dan tak hanya melulu berisi konsep-konsep ‘kosong’ belaka, lantaran konsep-konsep pemikiran yang diusung penulis langsung terhubung dengan realita. Bukankah teori-teori pada dasarnya dilahirkan oleh realita yang sudah ada, dan bukan sebaliknya? Inilah kunci utama yang saya jadikan patokan dalam menilai tiga puluh naskah artikel siswa-siswi SMANSARA.

Senin, 27 Agustus 2018

Penulis dan Kata-Kata Bijaknya



 Penulis dan Kata-Kata Bijaknya





Dalam sebuah status media sosial, salah seorang teman saya pernah menuliskan amarah perihal penipuan yang pernah dialaminya terkait setoran dana yang telah ia berikan kepada seorang penulis. Katanya, sekian persen dari hasil penjualan buku hendak disumbangkan ke sejumlah yayasan penyantun anak yatim dan kegiatan yang intinya para pemberi dana gotong royong akan diikutkan serta dalam kegiatan yang ia galang. Namun setelah sekian bulan menunggu, sungguh jauh dari kenyataan. Ia telah kena tipu. Teman saya ini pun kemudian tanpa ragu menumpahkan semua kekesalannya dalam sebuah status media sosial. Betapa, di ranah mereka yang biasa menyuarakan kebaikan (lewat tulisan) pun ternyata juga ada penipunya.
Saya akan mengajak Anda untuk melupakan kasus penipuan itu dulu. Entah mengapa saya justru teringat dengan apa yang pernah dinyatakan oleh Roland Barthes, seorang kritikus sastra, filsuf, ahli linguistik dan semiotika kelahiran Cherbourg, Normandia—Perancis, 12 November 1915, perihal kematian pengarang. Katanya, (Sapardi, 2018: 194-195) ketika dalam proses menulis teks, pengarang mengalami proses kematiannya dan ketika teks selesai ditulisnya ia benar-benar sudah lenyap atau mati, suatu peristiwa yang kemudian disusul dengan kelahiran pembaca. Sapardi Djoko Damono (dalam “Alih Wahana”, 2018) kemudian memberikan catatan kaki bahwa ‘bahasa’lah yang kemudian melahirkan sastra, sama sekali bukan pengarang. Yang berbicara dalam teks, yang melakukan sesuatu, bukanlah ‘aku’ pengarang, melainkan kuasa bahasa yang kemudian dilahirkan kembali oleh (tafsiran) pembaca. Maka tak heran jika satu teks, kadang bisa melahirkan sekian tafsir oleh sekian pembaca.

Selasa, 20 Maret 2018

Pertanggungjawaban Fiksi Terhadap Dunia Realitas



Pertanggungjawaban Fiksi Terhadap Dunia Realitas




Fiksi adalah sebuah media yang dalam tataran penyajiannya senantiasa menggunakan kode dan tanda sebagai pengganti objek dalam dunia realitas. Baik dalam karya realis, realis magis, apalagi surealis. Sang pengarang bisa dengan leluasa memainkan kode atau tanda yang ia pinjam untuk memengaruhi pembaca, tak peduli kode atau tanda yang ia pinjam berupa objek mati atau makhluk hidup. Ia berusaha memakai daya sihir dunia hiperrealitas untuk mengail kepercayaan pembaca atau berusaha mengubah keyakinan pembaca yang telah mapan.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Buku-Buku Vertigo Kecendekiawanan



Buku-Buku Vertigo Kecendekiawanan

Ditinjau dari sisi spiritualitas, kita mengenal dua macam pengetahuan, yakni pengetahuan lisan yang berdasar pada fakta, data, dan pengetahuan praktis yang ada dalam buku, serta pengetahuan hati yakni pengetahuan yang bertumpu pada kebijaksanaan untuk melihat dan memuliakan Tuhan di segala hal yang kita katakan dan kerjakan (Imam Jamal Rahman. Serambi, 2016; 238). Dua pengetahuan inilah yang kemudian mendasari semua pemikiran dan ide-ide yang dicetuskan dalam beragam tulisan dan  terkompilasi dalam sebuah buku sehingga memudahkan sang pemilik ide untuk menyampaikan gagasannya kepada khalayak.

Senin, 14 Maret 2016

Terminologi Kiai, Dulu dan Kini



Terminologi Kiai, Dulu dan Kini




Terserap dari bahasa Tiongkok, ‘kiai’ berasal dari kata ‘kiya’ yang berarti ‘jalan’, dan ‘i’ yang berarti ‘lurus’. Kiai adalah orang yang benar-benar menempuh jalan kebenaran dalam setiap ucapan, keputusan, perbuatan, serta tingkah lakunya dalam kehidupan bermasyarakat (Putra Poser Alam, 2015:96). Sementara dalam KBBI sendiri, kiai didefinisikan sebagai alim ulama atau yang cerdik pandai dalam ilmu agama. Dalam sebuah hadits, Nabi Saw. menjelaskan bahwa kiai (ulama) merupakan pintu gerbang untuk mengetahui semua ajaran agama. Lantaran efek keilmuannya tersebut, seorang kiai seringkali mendapatkan kedudukan istimewa dalam masyarakat.

Jumat, 03 Juli 2015

Laporan Pertanggungjawaban Lomba Cerpen Jawa Pos Radar Kudus (20 Desember 2014)



Memaknai ‘Ibu’

Saya sempat mengeluh ketika Panitia menyodorkan naskah-naskah lomba hanya dalam jarak beberapa jam menjelang pengumuman pemenang. Alasan saya, bagaimana saya bisa menemukan ‘mutiara’ dalam rentang waktu kilat? Sebenarnya mudah saja jika saya memakai metode kilat, yakni memukul naskah-naskah tersebut dari keberesan EyD. Tapi seperti pengalaman saya sebelumnya, hampir semua peserta terjungkal pada EyD. Masalah ini sebenarnya menggambarkan betapa buruknya pengajaran materi Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Sebab, dari kecakapan EyD itu dapat langsung terbaca perihal kecakapan siswa dalam membaca, memaknai, untuk kemudian (syukur-syukur) menjadi penulis sastra. Saya jadi penasaran bagaimana proses pengajaran para guru Bahasa Indonesia dalam memberikan materi.

Laporan Pertanggungjawaban Lomba Menulis Cerpen MA. Hasyim Asy'ari Bangsri Jepara (18 Mei 2014)



Surat Terbuka untuk Geraha yang Rajin Membaca


Dear Sobatku Geraha yang rajin membaca, apa kabarmu? Sehatkah? Selama dirimu masih doyan baca, aku yakin kau sehat-sehat saja, karena membaca adalah asupan gizi penting untuk seorang calon penulis berbakat sepertimu. Selama kau terus membaca, saya yakin, tulisanmu akan terus lahir, jika kau memang serius ingin menjadi penulis. Membaca cerpenmu, saya sebagai penikmat sekaligus penulis fiksi yang ditunjuk untuk mengkritisi karyamu dan juga teman-temanmu yang lain, jadi amat tergelitik. Tampaknya, kamu penyuka budaya Korea ya? Itu terlihat dari tulisanmu yang berjudul “BUDAYAKU BERHARGA DI NEGERI TETANGGA” yang seharusnya ditulis “Budayaku Berharga di Negeri Tetangga”.

Jumat, 10 Oktober 2014

Manunggaling Kawulo Gusti



Manunggaling Kawulo Gusti: Sebuah Tinjauan Sekilas






Bahwa tujan akhir sufisme sebenarnya bukanlah tentang keakuan dan Yang Ilahi, meskipun jalan yang dilalui adalah usaha-usaha untuk mencapai kesatuan hamba dengan Tuhan. Senada dengan apa yang dimaksudkan oleh  GBPH H. Joyokusumo (adik kandung Sri Sultan Hemengkubuwono X) tentang makna manunggaling kawulo gusti, yang adalah pendekatan dan rasa ketuhanan yang ada dalam diri seseorang, bukannya bersatunya hamba dengan Tuhan secara harfiah.
Rasa adalah tolok-ukur pragmatis terhadap arti segala usaha mistik orang Jawa. Rasa membawa maksudnya dalam dirinya sendiri, rasa adalah keadaan yang puas tenang, ketentraman batin, ketiadaan ketegangan, sehingga memunculkan kebahagiaan baik bagi sang pelaku, lebih-lebih bagi semesta. Filsafat Yunani mengenal ini sebagai eudaimonia (Franz Magnis Suseno, 1984:133).  Rasa seolah menjadi pokok dari segala laku, menjadi ruh yang tak terpisahkan dari setiap tindakan.

Rabu, 08 Oktober 2014

Simbolisme dalam Ritual Jawa



Simbol dalam Ritual Jawa



Orang (khususnya) Jawa memang senang mengungkap sesuatu dengan perlambang, dengan simbol-simbol. Bahkan hampir semua suku di dunia dalam berbagai situs yang ditemukan, selalu menyatakan sesuatu dengan perlambang dan simbol-simbol. Termasuk dalam upacara tradisi yang masih mereka jalankan. Bisa dipastikan mereka menggunakan tata aturan (ubo rampe) tersendiri yang sebenarnya mencerminkan hubungan mereka dengan diri sendiri, Sang Pencipta Semesta, juga alam sekitarnya.
Masyarakat Jawa misalnya. Dari sejak lahir hingga mati, kesemuanya memiliki tata aturan sedemikian rupa, seolah setiap fase dalam kehidupan adalah sesuatu yang istimewa yang harus diatur sebaik-baiknya. Meski ujung dari segala fase itu adalah ketragisan, yakni menjemput maut. Dari tata laku hingga tata pikir juga diberi ancer-ancer (batasan-batasan) agar tidak kesasar dan menjadi ‘manusia hilang’.

Minggu, 28 September 2014

Sastra Bonsai



Sastra Bonsai



Setali dengan pendapat Gilles Deleuze dalam Nietzsche and Philosophy (1962) dalam soal kritik, bahwa inti kritik sebenarnya bukanlah pembenaran (bukan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah), namun hanya merupakan cara pandang yang berbeda dalam merasakan. Pendek kata, kritik adalah sensibilitas lain. Maka tak heran jika kritik antara satu orang dengan yang lainnya bisa berbeda meski obyek yang menjadi sumber kritik satu sama. Karena sensibilitas tiap individu tentulah akan berbeda-beda tergantung pengalaman yang telah tertabung dalam otak dan hatinya.
Hal ini kemudian akan menimbulkan masalah jika dua orang pengkritik saling ngotot perihal kefasihan kritik yang telah disampaikan. Apalagi jika dua orang tersebut sama-sama menganggap dirinya ‘paling’ dibanding yang lain. Sementara obyek yang menjadi sasaran kritik atau sasaran pembanding terhadap obyek itu, hampir tiada cacat cela yang begitu berarti. Mungkin itu sebabnya dalam suatu lomba, terutama menulis, sering didapati pasal persyaratan; Keputusan juri bersifat final, alias tidak dapat diganggu gugat.