Tampilkan postingan dengan label Serial Joko Thole. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Joko Thole. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2017

Psikologi Perempuan (1)



Psikologi Perempuan (1)



Pagi itu, Joko Thole melihat sebuah kejadian luar biasa. Setelah berbilang hari senantiasa terdengar riuh ribut dan yang sekerabatnya dari dapur rumah Pak Suparman, pagi itu ia mendengar sebuah kejadian mengharukan. Ia pun urung melanjutkan langkah ke warungnya Mbok Sumber.
“Saya minta maaf atas sikap saya yang kemarin ya, Mak… ,” suara Pak Supar terdengar memelas.
“Makanya, kalau jadi lelaki itu mesti ana anu anu, jangan malah begini begitu, begini begitu. Apa kau pikir jadi perempuan itu ana anu anu? Apa kau pikir selama ini aku kurang begitu begini begitu? Mikir mikir…”

Kamis, 23 Oktober 2014

Serial Joko Thole (6); Ternyata Cari Duit Itu Mudah



Ternyata Cari Duit Itu Mudah
(6)


“Weisss… cincin Kang Thole kereen!” mata Slamet berbinar-binar saat melihat cincin monel di jari manis Joko Thole.
“Barang mahal ini, jangan disentuh!”
“Alaah…paling juga dikasih orang. Kayak enggak tahu kondisi perekonomian negara Joko Thole saja.”
“Ya memang dikasih orang, Met, masak dikasih kuntilanak? Aku masih normal, Met. Tahu mana yang cewek salihah, mana yang cewek…”
“Harganya berapa, Kang?” potong Slamet.
“Enggak dijual.”
“Alaah… nanti Kang Thole kan bisa beli lagi. Atau begini saja, Kang Thole bersedia antar ke penjualnya langsung?”
“Ini kudapat dari orang Semarang lho, Met. Transportnya saja kamu tahu berapa kan?”
Slamet manyun.
Sementara itu ingatan Joko Thole tengah memutar ulang kejadian kemarin pagi, saat Joko Lelur pamit pulang.
“Ini kenang-kenangan dariku, Kang. Terima kasih karena Kang Thole telah menyebabkan saya sadar dan betul-betul ingin memperbaiki diri,” sambil berlutut.
Joko Thole terlonjak mengira dapat lamaran, “Eh, enggak, enggak, jangan!”
“Saya betul-betul ingin memperbaiki diri di rumah saya, di kampung kelahiran saya, Kang,” mimiknya sangat memelas.

Rabu, 22 Oktober 2014

Serial Joko Thole (5); Bagai Pinang Dibelah Dua



Bagai Pinang Dibelah Dua

(5)

Tok…Tok…Tok…
Joko Thole hanya mengolet.
Tok…Tok…Tok…
Joko Thole menyebak telinganya.
Tok…Tok…Tok…
“Buaj…jing!! Buaj…jing!!” genting rumah sampai tergetar lantaran bersin yang mahadahsyat itu.
Ada yang geleng kepala. Yang lalu mengembuskan napas halusnya ke telinga si Joko Thole lagi, “Maling…maling…maling…”
“Hmm…jengkol…nyam…nyam…,” malah justru keasyikan.
“Maling! Maling! Maling!”
“Hah, maling ?! Maling! Maling!” langsung terbangun. Panik. Menabrak tiang listrik di depan tempat tidurnya. Tapi begitu menyadari bahwa tiang listrik itu menyeringai ke arahnya sambil memamerkan sehelai bulu ayam, Joko Thole tambah panik.
“Setaaann!!” langsung melesat ke pintu.
“Kang Thole, ini aku, Lelur.”
“Hah, Lelur? Joko Lelur?” buru-buru mengopesi belek di kedua mata. Dunia pun terlihat terang-benderang.
“Oalah Lur, Lur. Cewek salihah itu pasti sekarang sudah minggat dari mimpiku,” dengan wajah lecek dan rambut masai, tanpa malu kembali ke peraduannya.
“Namanya siapa, Kang?” kedua matanya berbinar terang. Maklum, cowok yang satu ini juga menyimpan impian tersendiri tentang cewek salihah.
“Puspa Endah Di Taman Asri Buat Eyesmu Berseriseri.”
“Namanya wow sekali. Pasti orangnya juga wow. Kenalkan dong, Kang.”
“Tunggu sebentar ya.” Merilekskan tubuhnya di pembaringan. Memejamkan mata pelan-pelan. Lalu bibirnya pun mulai mendesiskan nama itu pelan-pelan, “Pus…pus…pus…”
Mimpi jilid kedua dimulai.
*          *          *

Senin, 04 Agustus 2014

Joko Thole; Mimpi Buruk yang Bercahaya



MIMPI BURUK YANG BERCAHAYA
 (4)

Angin sepoi di ladang rumput membuat mulut Joko Thole menganga lebar, menunggu mangsa. Dalam posisi telentang menghadap langit, Thole merasakan bahwa ia hanyalah sebutir debu di bawah dekapan Sang Maha Besar. Thole memejamkan mata. Ada Emak dalam kepalanya.
        Emak berujar, “Kau tahu menapa Gusti Allah Maha Pengampun segala dosa kecuali syirik, Le?”
       Thole mengeleng.
       “Coba kamu lihat langit luas itu. Dia Besar, Dia Kaya, Dia Tidak Butuh Kita, tapi kitalah yang butuh Dia. Jadi jangan sekali-kali kau menjauh dari-Nya. Rugi, Le, rugi besar!” Emak menjawab sendiri pertanyaannya.
       Thole tersenyum. Dia pasti bukan Emak. Orang ini pasti Haji Budiman. Haji Budiman meminjam tubuh Emak agar bisa berkhotbah dalam kepala Thole. Dasar Pak Haji, ke mana-mana mulutnya selalu saja bikin merinding orang. Tak peduli orang yang dikhotbahinya bosan atau malah terkadang muak.
       “Kamu memang tak pernah mau mendengarkan perkataan Emak,” ujar Mak Fatmah yang entah bagaimana bisa tahu isi batin Thole.
       “Kamu bukan Emak. Kamu Haji Budiman kan?” Thole meringis.
       “Entah emakmu ini kau anggap apa, Le…”
       Emak…
       …@*…*@@@* !! rrr…zzz…
       …*@@!! Rrr… zzz…
       Emak…
       *    *    *
       Kokok ayam jago seketika menarik ruh Joko Thole dari alam mimpi. Ia tak paham mengapa tiba-tiba ia harus segera gegas untuk cuci muka. Sementara mulutnya terus saja ngedumel, “Ya Allah… kesiangan …kesiangan…moga-moga saja mereka tidak ambil ke orang lain …”
       Kepanikan itu berlanjut ketika tangan Joko Thole menyambar dunak[1]  milik Emak. Anggota tubuhnya bergerak di luar kendali. Ia tak bisa menghentikan kakinya yang tergesa menyusuri jalan setapak yang masih berselimut gelap. Thole semakin kebingungan ketika ia telah sampai ke perkarangan rumah Haji Salim
       “Kesiangan aku, Dah. Cepat isi dunakku,” Joko Thole tak peduli dengan kerumunan orang yang mengantre. Ia langsung ngeloyor ke pintu.
       “Eeeh, Mak. Sampeyan[2] itu bagaimana to? Ekor kok mendahului kepala. Sana, ngantre!” seorang karung gula (baca : gemuk) bertopi menepuk pundak Joko Thole.
       “Aduh, Min, aku kesiangan. Kasihani Emak ya!” sahut Thole, yang masih tak mengerti mengapa ia menyahut ujaran itu.
       Joko Thole menepuk mulutnya sendiri. Ia ingin bilang ke orang-orang itu bahwa dirinya adalah Joko Thole. Tetapi sesuatu yang aneh ini terus berlanjut.
Tersungsal-sungal Thole menggendong dunak itu. Jangan sampai para pelanggannya ngambek, marah-marah, lalu pindah ambil tempe ke orang lain.
       Kruyuk…kruyuk…Terdengar suara memelas dari dalam perutnya. Aih, selalu seperti ini jika terburu-buru. Ternak dalam perutnya lupa ia kasih makan.
       “Baa!!”
       Thole terlonjak. Sebangsa makhluk dari kegelapan tiba-tiba menyembul dari rimbun kegelapan. Ia langsung terbirit-birit menjauhi suara tawa itu. Hampir saja ia tersungkur menahan beban dipunggung. Dasar orang gila tak tahu diuntung! Thole sampai satu-satu mengais napas.
       “Tempee… tempe… tempe, Mak?” Thole menawarkan ke sesorang perempuan paruh baya yang tengah menyapu halaman rumahnya.
       “Tempe terus. Bisa budek nih telinga! Besok-besok saja. Aku lagi eneg kalau lihat tempe!” suara cempreng itu merobek hati Thole.
       “Mak… Mak. Kalau nggak ambil nih tempe ya sudah. Nggak usah pakai bumbu hinaan segala. Suaramu tambah nggak enak didengar tahu?!”
       “Situ sih, nawari tempe kok tiap hari!”
       Joko Thole langsung ngeloyor. Malas berpanjang-panjang debat dengan orang kolot. Sampai mulut memble juga tak ada guna.
       “Pak Guru, tempe ya, Pak?” Thole menyapa seorang lelaki yang tampak santai baca koran di serambi rumahnya.
       “Bangsa ini memang bangsa tempe. Lihat Mak, ada dua kasus korupsi lagi yang ketahuan hari ini,” memperlihatkan sebuah koran nasional.
       “Itu karena mereka tak pernah makan tempe, Pak. Coba kalau mereka langganan tempe sama saya.”
       “Ah, Mak Patmah ini bisa saja.”
       “Lho, benar, Pak! Mereka korupsi karena mereka kurang syukur. Coba kalau mereka setiap hari melihat keadaan saya, kehidupan saya. Mereka pasti akan lebih banyak syukurnya.”
       “Belum tentu, Mak. Siapa sih yang tahan dengan duit?”
       “Ambil tempe nggak, Pak?”
       Tersenyum manis, “Waduh, maaf ya, Mak. Hari ini saya libur dulu. Tadi saya sudah ambil ikan pecel dari Mbak Indun.”
       Seakan kejatuhan durian, kepala Thole terasa nyut-nyut. Ia menarik banyak napas panjang di langkah selanjutnya. Memang sering kejadian yang seperti tadi. Bermenit-menit berjuang merayu pembeli, tapi akhirnya waktu terbuang sia-sia ketika mereka tak beli tempe.
       Joko Thole mempercepat langkah ketika sampai di dekat rumah yang ia benci tapi sekaligus ia cintai. Napasnya sampai ngos-ngosan ketika langkahnya setengah berlari. Ia berharap hari ini akan selamat, akan selamat, akan selamat dari…
       “Mak, tempenya, Mak!” sebuah teriakan mematikan langkah Joko Thole. Ia menarik napas panjang, memenangkan diri, sebelam menoleh ke sumber suara.
       “Kenapa Mak Patmah lurus terus sih? Harusnya kan Mak Patmah ketuk pintu rumah saya dulu. Untung saja tadi aku bisa bangun pagi. Kalau tidak, apa Mak tak rugi kehilangan pelanggan setia?”
“Yaah Emak pikir kamu memang masih mendengkur, Pah. Emak kan paling anti membangunkan orang yang sedang mendengkur di ketiak suaminya.”
       “Seperti biasa, Mak, ambil empat.”
       Mak Patmah melongo ketika perempuan gemuk itu lenggang kangkung setelah mendapatkan apa yang ia mau.
       “Lho, kenapa Mak Patmah masih melongo di situ?!” untunglah akhirnya makhluk gemuk itu menyadari bahwa masih ada sepasang mata bola yang mengikuti langkahnya. “kan tadi aku sudah bilang, seperti biasa , Mak.”
       “Sudah empat hari lho, Pah.”
       “Iya  iya, sudah empat hari, aku ingat, Mak.”
       Ia benci karena pelangggan yang satu ini sering menyebabkannya puasa. Ia cinta karena tipe yang satu ini tipe pacar setia. Ada satu hal lagi yang harus dimaklumi . Pelanggan yang satu ini menghidupi tujuh perut. Kadang Thole bersyukur bisa membantu perjuangkan hidup pelanggan yang satu ini; Saropah si pembuat kerupuk.
       “Tempenya Mak Pat kecut! Pagi digoreng, siang kok sudah asam. Harganya diturunin seratus perak ya, Mak?”
       “Ya Allah, Bu. Laba seratus perak, Ibu malah minta turun harga seratus perak. Apa Ibu nggak kasihan kalau Emak cuma dapat laba lelah?”
       “Tempenya ini kecut lho, Mak.”
       “Iya, nanti Emak akan bilang ke pembuatnya. Emak kan cuma ambil dari orang lain, Bu.”
       Inilah susahnya jadi pedagang kecil. Laba kecil masih digencet juga. Tak seperti toko-toko swalayan yang untungnya besar dan tak ada yang berani menawar. Seharusnya ibu-ibu itu bisa memikirkan hal ini. Apa ada sih pengecer tempe yang berani ambil laba sampai lima ratus perak? Ah, dasar si ibu itu saja yang pelit. Semua barang ditawar tanpa peduli kepada penjualnya.
       Menjelang tengah hari, tugas Joko Thole akhirnya tunai Alangkah lega dan plong dadanya meski kaki serasa kaki robot, linu-linu dan kaku. Kebahagiaan selanjutnya yang ingin segera ia lihat adalah rumah tercinta. Meski mirip kandang kambing, tapi tempat itu telah menaungi hidupnya hampir dua puluh lima tahun!
       Alangkah dongkolnya hati Joko Thole ketika melihat sesosok makhluk yang masih meringkuk di atas bale kamarnya. Ada yang siap meledak dalam dada Thole. Wajahnya memerah lahar. Tangannya teraliri listrik yang siap menyengat.
“Ya Allah, Le! Matahari sudah pegal-pegal jalan-jalan ke sana ke mari, eh kamu kok masih anteng melipat kaki di kamar! Banguuun!”
       “Gempaa…! Gempa, Mak! Ayo cepat selamatkan diri!” kedua mata yang masih berlumur belelek itu mulai terbuka lebar.
       Klothak!
       “Aduh! Mak, ada bencana gini kok masih sempat kepikiran njitak anak sendiri,” mengelus kepalanya yang berdenyut-denyut.
       “Kebiasaanmu itu yang sebenarnya bencana. Emaknya saja pagi-pagi buta sudah jalan kaki ribuan kilometer keliling desa-desa. Eh, anak lelakinya di rumah kok malah masih molor. Coba pikir, apa itu bukan bencana buat si Emak?!”
       “Emaknya siapa sih, Mak, yang nasibnya malang begitu?”
       Klothak!
       “Emakmu!” tubuh Joko Thole gemetar. Hatinya teriris. Ia sudah sekuat tenaga untuk tak melakuakan kekerasan itu. Sungguh terasa aneh. Ia menjitak dirinya sendiri?
       Joko Thole langsung beranjak ke depan cermin. Masih wajah tampannya yang terpantul di sana! Tapi kenapa ia harus menjitak dirinya sendiri yang memanggilnya siapa tadi?
       “Bukannya kemarin Emak baru saja terima bantuan tunai lansung dariku?”
       “Le, Le, memangnya uang seratus ribumu bisa sampai mana?”  ada yang semakin sakit di dada Thole.
       “Uang seratus ribu bisa sampai Yogya lho. Masa baru tiga hari sudah krisis lagi?”
       Sakit itu semakin berdenyut-denyut. “Lha memangnya yang kemarin-kemarin itu kamu makan apa? Batu? Tinggal ambil di jalan begitu? Coba dengar, Hermanto sekolah itu pakai apa?”
       “Ya baju, Mak,”
       Klothak!
       Tidak…tidak…Joko Thole sudah berusaha menahan sekuat tenaga, tapi akhirnya…klotak! Sebuah jitakan mendarat lagi. Sebelah hatinya bilang; jangan sakiti dia! Tapi akhirnya… klotak! Sebuah jitakan mendarat lagi. Sebelah hatinya bilang; kau harus memberinya pelajaran! Ini demi masa depanya juga!
       “Lampu nyala juga harus pakai apa? Tempe tahu yang sering kamu omeli tiap hari itu belinya pakai apa ? Nasi bisa matang pakai apa ? Kayu kan ? Zaman sekarang kayu aja harus beli, Le, Thole.”
       Air mata Joko Thole telah mengenang. Aneka rasa campur aduk di dada. Sedih, marah, dan masih tak percaya pada semua yang dialaminya.
       “Emak nggak punya beras?”
       “Pikiranmu hanya Emak,  Emak,  Emak. Kalau Emak mati, bisa-bisa kamu jadi gelandangan, Le,” Mak Fatmah terus saja nyerocos sambil menghitung penghasilan hari ini.
       “Aku kan cuma tanya, Emak nggak punya beras?”
       “Tahumu cuma ada beras atau nggak. Cepat, minta beras sana!” Joko Thole sudah tak tahan lagi. Bergetar-getar mulutnya menahan amarah. Jualan hari ini minus, laba tertahan di rumah para pelanggan yang berhutang. Ia buru-buru menuju kamar.
       Dalam kamar, tanpa sengaja ia melihat pantulan wajahnya itu telah berhias keriput beraura sedih. Ia sungguh tak percaya dengan pemandangan itu. Ia tepuk-tepuk pipinya yang mulai kempot. Aku? Emak? “Tidaaa…kkk!!” teriaknya histeris.
      “Emak… Emaakk!!” tiba-tiba Joko Thole bangkit, celingukan. Begitu yang didapatinya hanya rumput-rumput bergoyang, ia langsung lari terbirit-birit mencari rumahnya.
       Hari telah penuh cahaya. Di dapur, ia menemukan sosok renta itu tengah berbaring di blabak.
       “Maafkan Thole, Mak. Thole minta maaf atas semua kesalahan Thole, Mak!” memijiti kedua kaki emaknya. Air mata menitik.
       Dan perempuan itu pun terbangun. “Dari mana saja kamu?”
       “Habis mimpi buruk, Mak,”  air mata menderas.
       “Ya Allah, Le. Emak sampai lungkrah begini, kerjamu cuma tiduuur melulu. Mbok ya si Gudel dicarikan pakan sana!”
      Joko Thole terdiam. Tiba-tiba ia sadar, ia telah meninggalkan Gudel di ladang rumput belakang SD! ***


[1] Semacam wadah mirip ember yang terbuat dari rajutan bambu
[2] Kamu (Jawa; kromo inggil)

Minggu, 20 Juli 2014

Ketika Si Raksasa Sakit



KETIKA "SI RAKSASA" SAKIT
(3)

 “Banguuun, ayo cepat banguuun!”
Joko Thole langsung terlonjak dari mimpi indahnya. “Gempa, Mak, gempa. Ayo, selamatkan nyawa!” Thole menarik tangan emaknya yang terlihat mematung.
Klothak!
“Aduh! Emak, ada bencana begini kok masih sempat kepikiran menjitak anak sendiri,” Thole mengelus kepalanya yang berdenyut-denyut.
“Kebiasaanmu itulah yang sebenarnya bencana. Emaknya saja pagi-pagi sudah jalan kaki ribuan meter keliling kampung. Eh, anak lekakinya di rumah kok malah masih molor. Coba pikir, apa itu bukan bencana buat si emak ?!”
“Emaknya siapa sih Mak, yang nasibnya malang begitu ?”
Klothak! Sebuah jitakan sukses mendarat di kepala Thole lagi.
“Emak puasa kan?” meringis kesakitan.
“Cari kerja, Le, cari kerja!”
“Bukannya kemarin Emak baru saja terima bantuan tunai langsung dariku?”
“Le, Le, memangnya uang seratus ribumu bisa sampai mana?”
“Ya Allah, Mak, uang seratus ribu bisa sampai Yogya lho. Masak baru tiga hari sudah krisis lagi?”
“Lha memangnya yang kemarin-kemarin itu kamu makan apa? Batu? Tinggal ambil di jalan begitu? Coba dengar, Hermanto sekolah itu pakai apa?”
“Ya baju, Mak. Masak telanjang?” potong Thole cepat.
Klotak!
“Lampu nyala juga harus pakai apa? Tempe tahu yang sering kamu omeli tiap hari itu belinya pakai apa? Nasi bisa matang pakai apa? Kayu kan? Zaman sekarang kayu aja harus beli, Le, Thole.”
“Thole jadi lapar setelah dengar pidato Emak,” Thole melangkah gontai. Bibirnya langsung manyun saat mendapati gentong beras yang kosong melompong. “Emak nggak punya beras?”
“Pikiranmu hanya Emak,  Emak,  Emak. Kalau Emak mati, bisa-bisa kamu jadi gelandangan, Le,” Mak Fatmah terus saja nyerocos sambil menghitung penghasilan hari ini.
“Aku kan cuma tanya, Emak nggak punya beras?” tiba-tiba ada yang terasa sakit dalam dada Thole.
“Tahumu cuma ada beras atau nggak. Cepat minta beras sana!”
”Yaah, kok minta sih, Mak?” dengan raut penuh penderitaan.
Tangan Mak Fatmah telah siap dengan jitakan, ketika akhirnya Thole akhirnya menuruti perintahnya. 
*          *          *
Baru saja beberapa meter meninggalkan sarang, Thole mendengar suara marah-marah dari arah dapurnya Pak Suparman.
“Tempe tahu tempe tahu, kalau kamu bisa cari ayam, sana beli ayam! Bisanya jangan cuma mengeluh melulu.” Lalu terdengar suara piring dilempar.
“Aku kan cuma bilang bosan, Mak. Mbok ya kadang diganti apa begitu,” itu suara Slamet. Thole geleng-geleng kepala. Ternyata bukan cuma dia saja yang mengalami krisis pangan.
Thole meneruskan perjalanannya dengan banyak berpikir. Tentang dirinya sendiri. Tentang umurnya yang sudah hampir seperempat abad. Sudah dapat apa ia selama seperempat abad? Kebahagiaan Emak? Tak ada. Cuma ijazah yang kini terjepit di tumpukan pakaian dalam lemari. Apa yang ia dapat dari sekolah itu?
Kadang Thole berpikir, mungkin masalahnya adalah ia lahir di tempat yang salah. Ijazah benar-benar hampir tak ada gunanya di daerah sini. Sangat tidak lucu kalau Thole harus menyertakan Ijazahnya kalau hanya untuk menyiangi rumput di sawahnya Pak Thio.
Bahkan Pak Thio yang borjuis itu pun cuma lulusan madrasah tsanawiyah. Semua orang di sini kebanyakan bekerja mengandalkan balas jasa dari anak-anak mereka. Mungkin itulah sebabnya kenapa Emak begitu ngebet ingin Thole lekas bekerja. Tapi kerja apa? Di daerah sini memang adanya cuma kerja musiman.
Thole lalu mendata para tetangga berikut pekerjaanya. Pak Suparman, dia benar-benar manusia super penggali pasir di Kali Gede. Jika musim penghujan biasanya dia pindah profesi jadi buruh tani. Pak RT, benar-benar murni seorang petani. Kehidupannya lumayan layak karena sang istri turut membantu sebagai penjual segala macam pisang di pasar. Pak Darto, buruh karung goni. Kang Razak, tukang sayur. Pak Thio cuma seorang penunggu toko. Nasibnya mujur karena toko itu adalah yang terbesar dan terlengkap di desa ini. Ahh, benar-benar tempat yang bermasa depan suram!
Ataukah…ia yang terlalu gengsi? Terlalu pilih-pilih pekerjaan?
Bukk!
Thole terhuyung saat langkahnya tertahan sebuah pohon mangga. Kutukan melamun.
“Ya Allah, sudah bersakit-sakit dahulu, kok tokonya malah tutup.” Thole mengetuk-ngetuk semua pintu di rumah Pak Thio. Tapi tak seorang makhluk pun menyahut.
“Masak hibernasi di musim kemarau begini sih?” Thole memperkeras ketukannya. “Pak, sudah siang , Pak!” ucap Thole sambil mengelilingi rumah itu mencari lubang apapun yang sekiranya bisa untuk memasukan suara. Tapi nihil.
Thole memijiti dahinya. “Benar-benar memalukan. Mau ngutang masak harus mulai dengan kericuhan. PAK, SUDAH SIANG, PAK!” Thole berteriak.
Krukruruyuk… Ternyata malah perut Thole sendiri yang menyahut.
“Hhhh, benar-benar apes.”
*          *          *
“Siapa suruh ke warungnya Pak Thio?”
“Lah bukannya Emak kalau belanja memang ke situ?”
“Ke warungnya Mbok Kus, Le!”
“Ngutang beras sampai ke ujung dunia sana?”
“Lha memangnya kenapa? Yang bakal melunasi kan Emak, bukan kamu.”
“Malu, Mak. Ngutang sih ngutang, tapi mbok ya ke Pak Thio saja, Mak.”
“Kamu mau mati kelaparan?”
Garuk-garuk kepala, “Setahuku Pak Thio bukan orang pelit. Emaknya Slamet setahuku juga terlibat kredit macet dengan Pak Thio.”
“Dua hari yang lalu dia masuk rumah sakit, Le. Kamu mau makan sampai dia sudah sembuh?”
Innalilahi, sakit? Sakit apa, Mak? Dua hari yang lalu katanya beliau masih sempat ke Demak kok?”
Saat itulah Mak Siyah datang sambil membawa muka susah. Gelagat seperti ini pasti pertanda sedang ada musibah. Apalagi tadi perempuan itu baru saja manghadiahi anak sulungnya dengan amarah. Masalah gerangan apakah ? Semoga bukan untuk pinjam duit. Kenapa ya, setiap orang sepertinya jatuh cinta dengan ’utang’? Mentang-mentang negaranya negara yang hobi utang.
“Mak Fatmah mau ikut doa bersama nggak?”
“Doa bersama?” kening Joko Thole berkerut. “Doa bersama apaan, Mak?”
“Pak RT sudah setuju kalau warga RT sebelas RW tiga mengadakan do’a bersama untuk Pak Thio. Cuma Kang Razak yang katanya absen. Soalnya Pak Thio kan memang saingan beratnya.”
“Di mana tempatnya?” Mak Fatmah mendekat.
Kening Joko Thole jadi tambah berkerut, mirip tumpukan wafer. Apalagi kulitnya memang coklat manis.
“Di rumahnya Pak Thio, Mak. Acara akan dipimpin oleh Haji Budiman dan diikuti oleh seluruh mereka yang punya  utang kepada Pak Thio.”
“Haaa?” mulut Joko Thole menganga menunggu mangsa.
“Kapan?”
“Secepatnya lah, Mak. Kalau sakitnya Pak Thio kelamaan, kan kita juga ikut sengsara. Mana mungkin Cik Mumun bersedia menjual perhiasannya untuk biaya suaminya. Pasti kita-kita yang akan kena cambuk melunasi hutang.”
“Iya, kapan?”
“Nanti malam, habis salat Magrib.”
Akhirnya kerutan di dahi Joko Thole menghilang sebelum Mak Siyah menangkap tumpukan wafer betulan dan berniat mengambilnya. Joko Thole mulai paham duduk perkaranya. Ini adalah persekongkolan orang-orang miskin untuk mendukung kekayaan Pak Thio.
Di balik kekayaan Pak Thio ternyata tersimpan nadi kehidupan mereka. Benarlah apa yang pernah dikhotbahkan Haji Budiman saat salat Jumat itu. Bahwa di sebagian kekayaan orang-orang kaya ada hak orang-orang miskin. Orang miskin akan turut menyangga kekayaan orang kaya dengan doa, selama si kaya tersebut tidak ingkar atas hak orang-orang miskin. Alias pelit bin medit.
*          *          *
Dua hari kemudian doa itu terkabul. Pak Thio diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tapi masih harus menjalani obat jalan, berobat sambil jalan-jalan. Maksudnya jika obat Pak Thio habis, maka dia harus jalan menemui Dokter Surash sampai ia betul-betul divonis sehat.
Dokter Surash adalah dokter spesialis penyakit syaraf di Kudus. Pak Thio terkena gejala stroke. Tak dinyana dua hari kemudian musibah di rumah Pak Thio merembet ke rumah Joko Thole. Mak Fatmah sakit. Meski bukan stroke, tapi perempuan kepala empat itu tak bisa lagi mengedarkan tempe. Mak Fatmah kini terbujur kaku dengan wajah sendu dan sering mengeluh ngilu-ngilu berharap dibelikan jamu. Apalagi jika melihat kelakuan anak sulungnya, hatinya semangkin bertambah pilu.
“Thok, nanti habis salat Magrib kita berdo’a bersama ya? Gudel juga harus ikut.”
“Doa bersama ?” yang dipanggil Thok menoleh dari televisi.
“Seperti yang dirumahnya  Pak Thio itu loh. Kita berdoa supaya Emak lekas sembuh. Kalau Emak sembuh, kan kita bisa makan enak lagi, nggak lauk lidah terus. Kamu juga pasti akan dapat uang saku lagi Thok.”
Mbeek!
“Bagus. Semoga Emak lekas sehat! Semoga Emak jaya! Semoga rezeki Emak tetap lancar sampai tua! Semoga Gudel nanti beranak tiga!” Thole mengepalkan tangan.
Sementara itu di pembaringannya, Mak Fatmah menangis tersedu-sedu. Tetapi bukan karena terharu.***

Jumat, 18 Juli 2014

Tong Kosong Bunyinya Nyaring



(2)



Lebah–lebah berdengung. Tapi anehnya bau jengkol meruap ke segala penjuru ruangan itu.
Sambil menutup hidung, Joko Thole buru-buru menyenggol lelaki berpeci hitam di sampingya. Pak RT lagi. Sekali lagi Pak RT menyenggolnya balik. Dengan wajah manyun Thole menyenggol lagi, lebih keras. Pak RT malah tersenyum manis sekali. Dan lalu balas menyenggol Thole tiga kali lebih keras hingga pemuda itu terdorong ke samping kiri hingga menimpa tetangganya.
“Ikut senggol-senggolan dong,” ucap Kang Razak dengan suara agak kenes.
Joko Thole menepuk dahinya, “Aduuh Pak RT, ayo dong buruan ngomong! Kita di sini mau ngapain.”
Terdengar dehem Pak RT. Seketika ruangan itu menjadi hening. “Bapak-bapak, ibu-ibu, kita ini di sini mau ngapain?”
Lebah-lebah kembali berdengung. Bingung.
“Lho, bukannya kita mau rapat, Pak RT?” Pak Darto mengangkat tangan kirinya. Semua tetangga yang duduk di sebelah kirinya buru-buru menutup hidung.
Joko Thole menepuk dahinya lagi, “Aduuhh, Pak RT ini bagaimana sih?”
Pak RT yang melihat insiden kematian naas itu buru-buru mengulurkan tangannya ke dahi thole.”Wah, ini nyamuk apa ya, Le? Chikungunya, malaria, atau demam berdarah? Nah Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, sebelum nyamuk-nyamuk yang lain meyerang rumah kita masing-masing, dalam rangka menyambut musim peralihan, saya ingin sekali mengajak bapak ibu sekalian untuk ikut kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar kita yang akan dilaksanakan besok pada hari…”
“Ahad saja, Pak RT, Pabrik tutup,” Pak Darto mengangkat tangan kanannya. Semua tetangga yang duduk di sebelah kanannya buru-buru menutup hidung.
“Hihihi, interupsi, maaf Pak RT,” gantian Jeng Denok yang mengangkat tangan kanan. Beberapa tetangga di sebelah kanannya langsung menutup mata. Jeng Denok buru-buru menutupi jahitan yang robek itu. “Hihihi, maaf Pak RT, mereka itu memang benar-benar masyarakat antipornoaksi.”
“Jeng Denok, kita bukan sedang membahas UU Pornografi. Kita sedang mencari hari baik untuk kerja bakti.”
“Hihihi, iya Pak RT. Saya usul hari Jum’at saja. Soalnya Ahad kan hari libur. Nah, saat itu orang-orang banyak yang libur juga. Saat hari libur, orang-orang banyak yang libur juga. Saat hari libur, orang-orang sering menfaatkan waktu luangnya untuk memanjaken eh, memanjakan rambut dan wajah mereka di salon saya. Jadi kalau diadakan di hari Ahad, rasanya kok bisa mengganggu kestabilan ekonomi saya.”
“Saya suetuju suekali dengan Jeng Denok!” sambil sibuk menggaruk-garuk kepalanya. Peci hitam yang bertengger di sarang burung di atas kepalanya terjatuh. “Soalnya hari Ahad itu kan puanjang. Saya bisa jualan sayur sampai kueliling lima desa lho, Pak. Nah, kalau Jum’at kan hari pendek,” masih dengan gaya yang kenes.
“Hihihi, tengkyu ya, Kang Razak. Besok-besok tak kasih diskon creambath gratis deh,” kalimat itu malah membuat Kang Razak manyun.
“Bagaimana kalau diadaken…,” Pluk! Thole menepuk bibirnya. “Bagaimana kalau diadakan pemungutan suara saja, Pak RT. Biar nanti tidak terjadi saling debat.”
“Wah, usul luar biasa, Dik Thole. Segera laksanakan!” Pak RT lalu mengambil kertas dari dalam kamar.
Setelah dibagi-bagikan, akhirnya didapat keputusan hari Jum’at.
“Ketuanya siapa, Pak RT?” Pak Suparman mengangkat tangan.
“Hihihi, iya Pak RT, supaya nanti ada yang ngatur. Saya juga mau usul, saya mau kok dijadikan seksi konsumsi.”
“Konsumsi dari mana to, Jeng?”
“Hihihi, ya urunan dong, Pak RT. Masak kerja berat nggak ada sesi makan-makannya. Bisa pada lemes lho nanti.”
“Saya suetuju buanget, Pak RT,” sambil mengurut-ngurut rambut kribonya. “Saya juga mau usul. Bagaimana kalau yang tidak buerangkat dikenakan denda. Lumayan kan buat nambah konsumsinya?”
“Tanganmu itu ngapain sih, Kang?” tanya Pak Suparman yang duduk di samping Kang Razak.
“Bantuin dong, Pak, biar cuepet selesai.”
“Sudi ah!” dengan wajah kecut Pak Suparman memalingkan wajah.
“Saya di sini, Pak,” Mak Sudiah yang duduk di belakang Kang Razak Langsung menyahut.
“Ada yang mau usul lagi? Silakan.”
“Bagaimana kalau Pak RT yang jadi ketua panitianya?” ucap Pak Thio, sambil tersenyum. Mata sipitnya jadi terlihat seperti orang yang mengincar sesuatu.
“Aduh Pak Thio, buka mata lebar-lebar dong. Saya kan sudah punya jabatan sebagai ketua RT. Masak mau merangkap jadi ketua anu lagi. Saya benar-benar nggak mau dicap sejarah sebagai manusia serakah. Bagaimana kalau Pak Thio saja yang jadi ketua, setuju?!”
“Jangan, jangan saya!” suaranya terdengar gugup. “Pekerjaan saya nggak ada liburnya. Saya ini orang sibuk. Kalau diserahi amanat begituan, nanti malah berantakan. Bagaimana kalu Joko Thole saja. Dia masih single. Pasti masih punya banyak waktu luang kan?” mata sipitnya mengerjap-ngerjap.
“Nggak, nggak, saya enggak…”
“Hidup Joko Thole!” Pak RT buru-buru menyahut.
“HIDUP!” semua orang dalam ruangan itu menyahut.
“Joko Thole ketua kerja bakti!”
“HIDUP!”
“Pak RT, saya ini kan masih muda, masih hijau, mana bisa memimpin yang tua-tua.”
“Siapa bilang Dik Thole ini masih hijau? Jenggotnya sudah lebat begitu kok,” sahut Pak RT.
“Hihihi, iya, siapa bilang Mas Thole ini belum pantas? Mas Thole sudah sangat pantas sekali,” Jeng Denok mengeluarkan senyum termanisnya. “Kalau Mas jadi ketuanya, aku mau kok jadi sekretarisnya,” saking manisnya senyum itu, seekor lalat langsung hinggap di sana.
”Pokokya aku nggak mau jadi ketua kerja bakti!”
“Siapa yang setuju Dik Thole jadi jetua kerja bakti, tolong angkat tangan.”
Seisi ruangan buru-buru angkat tangan. Berselang detik kemudian tiba-tiba mereka langsung menutup hidung.
“Hihihi, Pak Darto tolong nggak usah angkat tangan deh,” sambil menutup hidung.
Orang-orang akhirnya bisa bernapas lega saat perintah itu dituruti.
“Saya boikot,” Joko Thole bangkit dari duduknya.
“Eh eh, mau ke mana? Tak bilangin ke emakmu lho,”  sambil menguruti rambut keritingnya. “Aku akan bilang ke Mak Fatmah kalau anaknya nggak mau ikut kerja bakti.”
Seketika itu langkah Thole berhenti.
“Kamu itu wakil emakmu, Dik,” sambung Pak RT.
Thole mengembuskan napas berat, “Saya bersedia jadi ketua kerja bakti, tetapi saya minta satu syarat.”
“Hihihi, hembus yang keras dong,” Jeng Denok yang berada di depan Joko Thole, menghirup udara dengan nikmatnya .
“Aduh, Jeng. Ini kan bau terasi,” Kang Razak menutup hidung.
“Silakan, apa syaratnya? Perintah ketua harus ditaati ya saudara-saudara!”
“YAA!!”
“Denda bagi yang tidak ikut kerja bakti, duapuluh ribu rupiah,” Thole menatap satu persatu wajah dalam ruangan itu. Ada yang langsung melotot, menelan ludah sendiri, geleng-geleng kepala, dan ada yang masih menguruti rambut keritingnya. Cuma Pak Thio yang terlihat tersenyum.
“Bagaimana?” senyum kecil tersungging di sudut bibir Thole.
“Setujuuu…!” suara Pak Thio terdengar lantang sendiri. Semua mata menatap sengit Pak Thio.
 ***
Joko Thole melirik lagi jam dinding di serambi masjid. Sudah pukul setengah sembilan. Hhh, beginilah kebiasaan kebanyakan orang Indonesia. Moloor, ngareet, pantas nggak maju-maju. Thole benar-benar kesal. Sepertinya firasatnya akan jadi kenyataan.
Tak lama berselang muncul si Kia. Sambil tersenyum ia langsung menyerahkan upetinya. “Babah nggak bisa ikut, Kang. Pagi ini beliau harus kulakan beras ke Demak, pulangnya siang nanti. Ini uang dendanya ditambahi lima ribu, supaya yang ikut kerja bakti tetap semangat.”
“Semangat udelnya! Orang kok semangatnya pas usul doang.”
“Iiih, Kang Thole kok malah enggak syukur sih?”
Joko Thole menggerutu panjang lebar sepeninggal gadis tomboy bermata sipit itu. Tak lama kemudian…
“Hihihi, lho, kok nggak ada orangnya. Orangnya ke mana nih Mas Thole?”
“Tauk, aku bukan emaknya!”
“Hihihi, aduuh, gitu aja kok ngambek. Jadi nggak mirip Dude Herlino lho, Mas,” Jeng Denok mengeluarkan senyum termanisnya.
“Sayur! Sayur!”
Begitu melihat Kang Razak yang datang gerobak sayurnya, wajah Thole semakin terlihat masam.
“Kerja bakti kok bawa gerobak sayur, Kang?”
“Uaduh, Dik. Kang Razak ini cuma orang kuecil. Libur kerja sehari saja, ekonomi Kang Razak bisa kuacau. Jadi daripada nanti Kang Razak jadi bujang luapuk karena nggak kelar-kelar kawin karena nggak punya modal untuk melamar orang, jadi Kang Razak absen saja deh. Nih dendanya, tak tambahi seplastik bakwan, biar tambah semangat kerja baktinya, Iya kan, Jeng?” mengedipkan mata kirinya ke arah Jeng Denok.
Jeng Denok buru-buru mengalihkan pandang ke arah Thole. Takut kena virus yang menular melalui udara. “Aduuh… bener-bener mirip Dude. Apalagi kalau potong rambut di salonku,” geleng-geleng kepala saat mencermati wajah Joko Thole.
Lalu, tak lama kemudian.
“Lho, Met, Bapakmu juga nggak ikut kerja bakti?”
“Pesanan pasir lagi banyak, Kang. Sayang kalau ditinggal.”
“Heh, jangan korupsi! Denda Bapakmu ini kurang lima ribu.”
“Alaaah Kang, sama teman sendiri saja kok gitu.”
“Ayo, kembalikan yang lima ribunya!"
“Kamu itu si raja tega ya, Kang,” Slamet terlihat enggan merogoh saku celananya.
“Atau kamu gantikan saja bapakmu, nanti uangnya buat kamu semua.”
“Wah, ide bagus! Tapi tadi aku disuruh membantunya mengangkat pasir ke truk. Nanti kalau beliau tanya, aku harus kasih alasan apa?”
“Ya sudah, mana duitnya?”
Slamet manyun.
Di tangan Thole kini terkumpul hampir tiga ratus ribuan. Sudah hampir jam sepuluh. Thole mengembuskan napas berat.
“Hihihi, hembus yang keras dong,” Jeng Denok menghirupnya dengan nikmat.
“Pulang saja ya, Jeng?”
“Hihihi, nggak ah. Aku pingin berduaan saja sama Mas Thole.”
Thole menelan ludah ketakutan. Untung tak lama kemudian muncul Mak Sudiah.
“Lho, orang-orangnya mana, Le?”
“Nih, yang datang,” Thole memperlihatkan uang denda yang menyumpal penuh di saku bajunya.
“Pak RT?”
“Sibuk. Nggak tahu sibuk ngapain. Baru jadi RT saja sibuknya minta ampun, bagaimana nanti kalau jadi DPR ya?”
“Cuma tiga orang ya, Le?”
“Hihihi, malah romantis kok Mak,” Jeng Denok memperlihatkan senyum termanisnya. Dua ekor lalat sukses terpikat di sana.
“Nggak apa-apa, Mak. Kerja baktinya cabut rumput saja. Nanti uangnya kita bagi tiga!”
***
Di suatu pagi yang cerah. Saat itu Pak RT tak sengaja berpapasan dengan Joko Thole yang sedang menggiring si Gudel ke ladang rumput  di belakang SD.
“Sepertinya kerja bakti berjalan lancar ya, Dik?”
“Sangat lancar, Pak. Pak RT lihat sendiri, kan? Semua rumput di RT 11 bersih!”
Tertawa lebar, “ Saya malah kepikiran ide hebat. Nah, supaya RT 11 teladan. Bagaimana kalau setiap minggu saja kita adakan kerja bakti? Saya bersedia jadi ketuanya kok!”
Pak RT langsung terhenti manggut-manggut. Dahinya berkerut, menatap curiga Joko Thole.
“Bersih itu pangkal sehat. Bersih juga sebagian dari iman lho, Pak!”***