Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2020

Karpet Merah

 

Karpet Merah

 


Kita mungkin sudah tak asing lagi dengan penggunaan frasa ‘karpet merah’ yang sering diasosiasikan sebagai jalur atau jalan yang dikhususkan bagi para elit dalam sebuah acara resmi. Setidaknya demikianlah yang telah menjadi budaya dalam beberapa acara-acara resmi semacam OSCAR atau penyambutan para tamu penting yang bersifat protokoler.

Selasa, 21 Juli 2020

Masa Depan Hancur?


Masa Depan; Hancur?




Beberapa waktu silam, ketika berita perundungan seorang siswi SMU yang dilakukan oleh kawan-kawannya sendiri—hingga merusak keperawanannya, merebak di media sosial, beragam tanggapan/status dan komentar pun bermunculan pula di media sosial. Beberapa status tanggapan di media sosial itu mengatakan bahwa para siswi tersebut telah merusak dan menghancurkan masa depan korban perundungan dan pelecehan tersebut.

Minggu, 31 Mei 2020

Kesalahan Bahasa (yang Dimaklumi?)


Kesalahan Bahasa (yang Dimaklumi)?




Jika Anda berkendara di jalanan, mungkin dengan mudahnya akan menemukan frasa ‘cucian motor/mobil’, ‘warung makan’, dan setipenya. Pernahkah Anda berpikir bahwa sebenarnya ada kejanggalan dalam frasa tersebut? Imbuhan ‘-an’ dalam “cucian motor” yang seharusnya memiliki arti hasil dari proses mencuci, justru digunakan untuk menunjuk pada tempat pencucian motor. Frasa ‘warung makan’ juga tidak berarti warungnya (yang sedang) makan. Tetapi lebih kepada pengertian warung tempat memesan makanan. Namun lantaran kita (dianggap) sudah mafhum tentang maksud dari sang pemasang tulisan tersebut, jadilah semuanya terasa/dianggap wajar dan benar.

Senin, 18 November 2019

Mencipta dan Membuat


Mencipta dan Membuat




Di dalam Al Quran, terdapat dua kata yang artinya hampir sama tapi sebenarnya berbeda. Untunglah kedua kata tersebut diterjemahkan dengan dua kata yang (sebenarnya) berbeda maknanya pula. ‘Khalaqa’ yang kemudian diterjemahkan dengan ‘menciptakan’ dan ‘ja’ala’ yang diterjemahkan sebagai ‘membuat’. Dua kata yang memiliki arti sama-sama memproses terjadinya sesuatu, namun memiliki perbedaan dalam perkara prosesnya. Dalam hal ini, dua kata tersebut masih saja disalahpahami maknanya sehingga menimbulkan kesalahan pula dalam pemakaiannya.

Selasa, 05 November 2019

Psikologi Bahasa


Psikologi Bahasa



Pernahkah kita memikirkan perihal; ‘Bahasakah yang memengaruhi psikologi kita, ataukah sebaliknya? bahwa kondisi psikologi akan sangat memengaruhi bahasa kita?’

Minggu, 28 Juli 2019

Rasa Bahasa



Rasa Bahasa


Dalam bahasa Jawa, dikenal tiga tingkatan berbahasa yang masing-masingnya memiliki fungsi, tempat, dan rasa bahasa yang berbeda. Tiga tingkatan itu tampaknya memang terbentuk dari, sekaligus mendukung budaya feodalisme Jawa yang bermuara dari sistem kerajaan.

Sabtu, 29 Juni 2019

Antara Gelar dan Profesi



Antara Gelar dan Profesi




 Dalam sebuah esainya, Bre Redana pernah membeber perihal makna ‘budayawan’ dan ‘sastrawan’ yang sebenarnya tak sesederhana seperti dalam pemahaman kebanyakan orang selama ini. Bahwa sebenarnya tak semua penulis sastra atau pelaku budaya pantas mendapatkan gelar atau panggilan yang megah itu. Gelar atau panggilan sastrawan sejatinya hanya pantas disandang oleh dia yang seumur hidupnya didedikasikan ke dalam dunia sastra, demikian pula ‘budayawan’ yang ‘total’ mendedikasikan hidupnya ke dalam ranah budaya. Gelar tersebut belumlah pantas disandang oleh mereka yang sekadar mampir apalagi coba-coba di kedua ranah bidang tersebut.

Kamis, 11 April 2019

Mewaspadai Penanda Kosong



‘Mewaspadai’ Penanda Kosong




Dalam ilmu linguistik, kita pasti akan mengenal apa yang disebut sebagai ‘penanda kosong’. Makna yang dibawa penanda ini begitu mudah dimanfaatkan oleh pengucapnya, sehingga terkesan menimbulkan kekosongan makna. Semua orang bisa memanfaatkan deretan penanda kosong ini sesuka dan sesuai keinginannya, seolah-olah makna dari penanda kosong itu telah tersampaikan, padahal tindakan mereka justru menihilkan makna yang ada. Sebagai contoh dalam deretan penanda kosong ini; kebenaran, keadilan, kebahagiaan, keindahan, Tuhan, rakyat, dsb.

Selasa, 02 April 2019

Perihal Nama



Perihal Nama




Apalah arti sebuah nama’, adalah ungkapan terkenal yang pernah diucapkan oleh pujangga kenamaan Inggris, William Shakespeare. Dalam konteks pembicaraannya itu, ia seolah menganggap nama hanyalah sekadar nama, yang digunakan untuk mengenali dan memberi ciri seseorang. Nama seolah tak memiliki makna apa pun selain hanya dijadikan penanda atau alat untuk memanggil. Padahal seperti yang kita tahu, saat kita mencarikan nama untuk calon jabang bayi terkadang sampai harus tanya ke sana- kemari, pergi ke ‘orang pintar’, melihat ‘neptu dan hari pasaran’ (Jawa), melihat bulan, musim, sampai ini itu yang intinya agar nama itu selain enak dan (terasa) cocok buat kita, juga dimaksudkan untuk menyimpan momen/kenangan, makna tertentu, cita-cita/harapan, (bahkan) untuk mengabadikan sang mantan, sampai kadang untuk mengabadikan orang yang kita kagumi. Nama bukanlah sekadar nama.