Tampilkan postingan dengan label Fotofotolangit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotofotolangit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Agustus 2014

Mereka Membiarkan Tomat-tomatnya Membusuk

Jum'at, 29 Agustus 2014.
Saya berkunjung ke Desa Pasir setelah mendengar para petani tomat yang membagi-bagikan tomat mereka kepada para tetangga secara cuma-cuma.Sampai muntah-muntah tomat saya, hehehe. Karena harga per kilo-nya (di tingkat tengkulak) yang hanya Rp. 300,00 tak ayal kekecewaan membuat para petani tersebut lebih rela membiarkan tomat-tomat mereka mengering.
"Untuk membayar upah pemetik tomat saja 25-30 ribu sehari. Ya mana cukup?" begitu keluhan mereka.



Sabtu, 02 Agustus 2014

Pantai Mbayuran


Pantai Mbayuran Maret 2013. Pertama kali saya berkunjung ke sana, ketika diajak oleh teman-teman dari Forum Ideas Share dalam rangka pertemuan rutin tiga bulanan.
Pantai yang unik. Di belakang objek yag saya foto ini, adalah sawah, dengan air (yang tentu saja) tawar.
Yang tampak oleh Anda ini adalah sebuah teluk (lekukan buatan) yang mula-mula kejadiannya akibat penambangan liar pasir besi yang diekspor ke Singapura.
Suer, pemandangannya menakjubkan. Di sebelah kanan foto yang tak tampak ini ada sebuah gubuk, yang entah milik siapa. Di sebelah kiri, adalah deretan perahu-perahu milik penduduk;





Nah, keren kan?!
Sayangnya, bakau di sini sudah habis. Kesadaran penduduk akan pentingnya bakau tak ada. Bagaimana jika nanti air laut resap ke perkampungan? Bagaimana jika nanti air laut pasang? Saya lihat, di jalan masuk ke posisi saya ini, bakau benar-benar sudah musnah.
Keunikan lainnya, adalah pemandangan PLTU Jepara yang bisa dilihat dari sini. Di sepanjang towernya ada terlihat semacam kilatan-kilatan listrik.



Btw, foto di ataslah yang menjadi inspirasi awal cerpen "KABUT" di Suara Merdeka. Tentang seorang nelayan yang tersesat oleh kabut (metafor dari dunia kematian yang absurd).

Sabtu, 26 Juli 2014

Irigasi di Rejosari


Sempat tidak percaya ketika istri saya bilang bahwa irigasi ini berasal dari Kedungombo yang fenomenal itu (fenomenal yang saya maksud di sini karena kasus-kasus yang melingkupi asal-muasal pembuatannya benar-benar membuat rasa kemanusiaan teriris). Kira-kira, berapa kota yang harus dilaluinya? Berapa lama penggarapannya? Bagaimana perasaan para korban penggusuran waduk Kedungombo saat mengetahui bahwa ternyata pengorbanan mereka juga menghidupi banyak(ribuan jiwa) petani? Bahkan, kebanyakan petani di Rejosari menggantungkan hidupnya dari sektor ini, dan mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. (Pada kesempatan lain saya juga bertanya-tanya--ketika tahu bahwa hasil dari bertani ternyata lumayan--mengapa Demak bisa dikategorikan sebagai daerah tertinggal-dengan indikasi upah UMR yang rendah?)
Saya baru percaya bahwa irigasi ini ada sangkut-pautnya dengan Kedungombo ketika mertua saya menyebut-nyebut itu, dan kepala desanya membenarkan. Betapa ajaibnya! pikir saya.
Gara-gara frame inilah, tanpa sengaja saya 'terhamili' sebuah ide untuk cerpen dengan judul "Jauh Hingga Kedungombo". Hmmm...