Dia Ingin Pergi ke Negeri Dongeng
Remang-remang. Fajar belum sepenuhnya membawa cahaya. Namun rasa
penasaran benar-benar telah merasukinya. Toto berusaha menghindari suara.
Bahkan saat coba memperbesar lubang di dinding gedheg itu dengan
sebatang ranting.
Ia berharap menemukan sesuatu yang lain. Semacam kebiasaan aneh yang
belum diketahui oleh siapapun. Tapi yang didapatinya masih saja seperti
kemarin. Sosok itu masih tergeletak pulas di atas pembaringannya. Hanya seperti
itu. Selama bermenit-menit kemudian. Seperti beberapa hari kemarin.
Ia pernah mencoba cara itu. Berlama-lama tidur. Mungkin itu adalah cara
mendapatkan lebih banyak mimpi—yang kemudian menjadi dongeng. Tapi ia tidak
bisa. Tidur lama—yang jadi terlihat seperti pemalas—adalah kemustahilan
baginya. Itulah mengapa ia amat berharap akan menemukan rahasia lain dari
lelaki yang tengah diintipnya sekarang. Meski toh akhirnya ia kecewa lagi hari
ini.
* * *
Saat yang paling menyenangkan adalah ketika lelaki itu pulang dan semua
lalu berkumpul demi mendengarkan dongeng-dongeng baru darinya. Itu adalah waktu
berharga ketika Toto bisa melupakan rumah sejenak.
“Jangan berebut, semua pasti kebagian,” lerai lelaki itu ketika semua
berebut ketela rebus yang disuguhkannya sore itu.
“Kalau sudah dapat bagian, duduklah yang manis,” ujarnya lagi, sambil
menyiapkan kopi hangat untuk diri sendiri. Selalu kopi. Seolah tak ada minuman
lain yang cocok sebagai teman mendongeng selain kopi.
Kali ini ia akan mendongeng tentang asal-usul sebuah desa. Banyuputih
nama desa itu. Seperti kemarin-kemarin, kali inipun dongengnya baru. Selalu
baru. Seolah kepala lelaki itu adalah sarang dari segala macam dongeng.
Ketika dongeng dimulai, semua keriuhan akan langsung berhenti. Semua mata
akan langsung tertuju ke arah lelaki itu. Seperti terhipnotis. Meski apa yang
didongengkan kadang adalah sesuatu yang begitu mustahil kejadiannya.
Setelah dongeng selesai, bisa dipastikan teman-teman Toto akan kembali
riuh bertanya ini itu. Namun yang membuat Toto takjub bukanlah soal nyata atau
tidaknya, dahsyat atau biasanya dongeng yang baru saja ia dengar. Ia justru
penasaran dengan bagaimana bisa lelaki itu mendapatkan beratus-ratus dongeng
yang berbeda saban ia pulang ke rumahnya.
Tak ada yang tahu pasti perihal apa pekerjaan lelaki yang hobi mendongeng
itu. Tapi yang pasti, setiap pagi ia akan selalu pergi dan baru pulang setelah
cahaya mulai rebah di barat. Kecuali hari Jum’at. Setiap Jum’at lelaki itu
hanya terlihat santai di rumah mungilnya. Seolah hari Jum’at adalah hari suci,
yang tidak boleh diganggu dengan kesibukan apapun.
Toto pernah dengar dari orang-orang, lelaki pendongeng ini adalah seorang
pengemis yang terus berjalan dari satu daerah ke daerah lain. Dugaan ini cukup
masuk akal. Sambil memanfaatkan rasa iba orang-orang saat melihat kaki kirinya
yang pincang, mungkin saja bahwa semua dongeng miliknya itu ia kumpulkan dari
banyak mulut di sepanjang jalan yang pernah ia lewati.
Suatu pagi, ketika Toto benar-benar bosan dan muak dengan rumahnya, ia
pun memutuskan meniru cara hidup lelaki pendongeng yang ia kagumi. Hanya
berbekal pakaian yang melekat di badan, dan tekad kuat yang memenuhi dada, Toto
meninggalkan rumah dan sekolah.
Ia berjalan dan terus berjalan. Ia tidak pernah bertanya tentang arah
kepada siapapun. Meski banyak orang di jalan yang menanyakan ke manakah ia
hendak pergi. Ia berhenti hanya saat kakinya lelah atau saat mendekat ke
beberapa orang yang kongko-kongko santai di depan rumah atau di pinggir jalan.
Dengan cara seperti itulah ia bisa mendengarkan banyak cerita yang beraneka
ragam. Terasa lebih seru dibandingkan cerita-cerita lelaki pendongeng yang
pernah ia kagumi, sebab ini lebih terasa nyata adanya.
Toto mulai menikmati perjalanannya. Jika kemarin—sewaktu masih tinggal
bersama emak bapaknya—ia begitu takut sekali dengan kelaparan, kini hal itu
ternyata tak semengerikan yang ia bayangkan. Saat lapar mencubit-cubit
perutnya, ia hanya tinggal melangkah ke ambang pintu sebuah rumah. Terus
berdiri di situ hingga si pemilik rumah keluar karena tak betah menahan iba dan
lalu mengulurkan uang recehan.
Toto mulai terbiasa dan menikmati kehidupan barunya. Tidak pernah
dikhawatirkan atau mengkhawatirkan sesuatu. Tidak pernah dikejar-kejar atau
mengejar seuatu(karena dongeng-dongeng yang ia buru begitu melimpah di
mana-mana). Tidak pernah dibebani atau merasa membebani sesuatu. Hidupnya hanya
perlu terus berjalan dan mendengarkan dongeng-dongeng yang berserakan di
sepanjang perjalanan.
* * *
Malam yang cerah. Rembulan bersinar terang. Seperti kedua matanya.
Beberapa hari terakhir ini Toto sulit tidur. Tak lagi dongeng-dongeng indah
yang merembes ke sana, melainkan mimpi buruk yang meneror tidurnya, dan
membuatnya rindu pulang.
Apakah bapak emaknya akan mencari dan menyuruhnya pulang? Ia tak yakin
akan itu. Jika mereka rindu kepadanya, buktinya sampai saat ini Toto masih di
sini, tersesat dan kadang tersiksa rindu.
Toto pikir, dongeng-dongeng indah pasti akan bisa merubah mimpi-mimpi
buruknya akhir-akhir ini. Ia pun berburu dongeng-dongeng indah dengan lebih rajin
lagi. Namun tak seperti kota-kota lain yang pernah Toto singgahi, di kota ini
dongeng indah begitu langka dan sulit dicari. Padahal rumah-rumah indah dan
gedung-gedung pencakar langit bertebaran di sana-sini. Justru, di sesela
rumah-rumah indah dan gedung pencakar langit itu, banyak terdapat lorong-lorong
gelap sarang dari segala dongeng-dongeng mengerikan. Di salah satu lorong gelap
itulah Toto sekarang, terjebak tak bisa pulang. Dikuasai sebuah dongeng buruk.
Hampir setiap hari Toto dikejar-kejar sosok mengerikan. Lebih mengerikan
daripada sosok yang pernah mengganggu mimpi-mimpinya sewaktu masih di rumah
dulu. Sosok itu mampu berubah-ubah wujud. Saat siang, ia bersosok kasar,
bermata penuh angkara, bertanduk runcing, tangan dan kakinya ringan memukul dan
menendang jika perintahnya tak segera dilaksanakan. Saat malam, sosok itu
berubah menjadi sosok penuh senyum, penuh perhatian, dan amat lembut. Bahkan Toto
sudah dianggap sebagai istri! Istri yang kesekian!
Ini adalah mimpi yang salah. Dongeng yang keliru. Seharusnya tidak
seperti ini. Ini jelas mimpi yang salah. Dongeng yang keliru. Kalaupun menjadi
tokoh dalam dongeng, Toto tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menjadi
seorang istri. Tidak sekali-kali! Ia anak laki-laki! Umurnya bahkan baru duabelas!
Ini mimpi yang terlalu! Ini dongeng kelewatan!
Toto ingin lari dari dongeng ini. Beberapa kali Toto coba melarikan diri
dari dongeng yang satu ini. Sampai sekarang belum bisa. Ia terjebak.
* * *
Toto tak tahu saat itu hari apa. Nama hari sudah tak begitu penting saat
ia terperangkap dalam sebuah dongeng yang mengerikan. Malam menua. Rembulan
teramat terang. Lalu tanpa pernah ia sangka, ada seseorang yang mendobrak pintu
dongeng yang memerangkap Toto. Seseorang yang membawa segerombolan polisi untuk
menangkap sosok mengerikan yang selama ini telah menawan Toto.
Toto menangis haru. Yang mendobrak pintu itu tak lain adalah lelaki
pendongeng yang dulu pernah dikaguminya. Entah bagaimana ceritanya lelaki itu
bisa menemukan dirinya. Mungkin karena lelaki itu bagian dari negeri dongeng.
“Kau harus pulang.”
Toto mematung.
“Dengar, tempat ini tidak baik untuk masa depanmu. Lagipula, kedua
orangtuamu telah mencari-carimu ke mana-mana. Mereka juga titip pesan kepadaku
untuk membawamu pulang.”
Toto masih juga mematung. Ia memang rindu rumah. Tapi…
“Aku suka dongeng-dongengmu, Pak. Dongeng-dongengmu selalu bisa membuatku
melupakan suara-suara mengerikan yang berasal dari dapur dan kamar emakku. Aku
ingin mencari sendiri tempat asal dongeng-dongeng itu,” gemetar ucap Toto.
Kembali teringat teriakan-teriakan, piring pecah, hantaman-hantaman aneh di
dinding kamar emaknya, suara isak malam yang lirih, dan perabot-perabot lain
yang hampir setiap hari mengeluh. Dunia terasa sempit saat itu. Ia pikir, hanya
tempat yang memiliki banyak dongenglah yang mampu mengakhiri deritanya.
“Aku tahu, aku tahu. Tapi kau harus tetap pulang ke rumahmu. Dongeng itu
sebenarnya bisa kau ciptakan sendiri, meski kamu berada di sebuah tempat yang
paling mengerikan sekalipun. Kau tak perlu memburunya ke mana-mana. Ayo pulang.
Nanti aku ajari.”
“Benarkah?” matahari terbit di hati Toto.
Lelaki pendongeng tersenyum. Senyum yang paling sejuk.
* * *
Akhirnya. Ini adalah malam yang paling ditunggu-tunggu Toto. Malam di
mana lelaki pendongeng akan mengajarinya mendapatkan banyak dongeng tanpa harus
pergi ke manapun. Ini sekaligus membuka rahasia lelaki itu bahwa semua
dongeng-dongengnya selama ini tak melulu bermuara dari tempat jauh yang
dikunjunginya.
“Semudah itukah?” Toto setengah percaya akan pengakuan lelaki itu.
“Iya. Sekarang perhatikan rembulan itu,” sahut lelaki pendongeng.
“Bayangkan kau tinggal di sana. Bapak emakmu, adik-adikmu, teman-temanmu, juga
diriku. Cobalah. Bayangkan dengan sungguh-sungguh.”
Toto menurut. Berkonsentrasi pada rembulan. Seperti ada sebuah rumah di
sana. Rumah yang begitu tenang dan benderang. Beberapa saat kemudian senyum
merekah dari sudut bibirnya. Senyum yang paling senyum yang pernah menghiasi
bibirnya.
Toto menoleh ke arah lelaki di sampingnya. Takjub. Betapa ajaibnya lelaki
ini. Bahkan hanya dengan beberapa kalimat, dia sudah bisa menarik Toto ke dalam
dunia dongengnya. Apakah itu adalah hal yang tak bisa ditiru?*****
Kalinyamatan – Jepara, 2013.
(Adi Zamzam, Tribun Jabar, Minggu 9 Februari 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar