Selasa, 17 Maret 2015

Tentang Antara Aku, Ibu, dan Gadis Kecil yang Kehilangan Ibunya



Tentang Antara Aku, Ibu, dan Gadis Kecil yang Kehilangan Ibunya




Adalah rindu yang membangunkanku pagi ini. Mataku langsung menemukan angka istimewa di kalender. Sebuah tanggal yang telah berumur empatpuluh lima tahun lebih, yang mengingatkanku pada seorang perempuan.
Kenangan mengepul dari sebuah potret di atas meja belajarku. Dia selalu tersenyum. Senyum yang kadang terasa luka, namun entah mengapa selalu menguarkan rindu. Apapun yang terjadi dia akan selalu tersenyum untukku. Pun saat menghadapi tugas-tugas dari dosen hukum pidana yang jarang senyum itu.
Ketika itu semua temanku sampai tersedak.
“Kamu waktu itu ikut ‘goyang’ enggak?”[1] pancing lelaki gaek itu, coba membangunkan kelas.
Sebuah loncatan besar, kata teman-temanku. Sebab lelaki uban yang pernah menjadi singa meja hijau itu terkenal pelit gurauan. Kasus terfiktif yang pernah dilontarkan. Tapi aku justru hampir muntah. Tumpukan buku tentang hukum pidana mendadak menjelma buku diary Ibu yang menguarkan kesedihan.