Senin, 05 Oktober 2015

Dan Perahu-perahu Kecil Itu Akan Sampai ke Rumah Tuhan



Dan Perahu-perahu Kecil Itu Akan Sampai ke Rumah  Tuhan



“Nulis apa, Luh?” masih berbaring di dipan ruang tamu. Tadi malam, sepulang dari tempat entah, lelaki itu terdengar riuh menceracau hingga larut malam. Mabuk.
“Surat,” tanpa menoleh.
“Lalu kenapa kau membuangnya ke laut?” mengucek mata.
Terhenti. Menoleh bapaknya. “Bapak mengambilnya kembali?”
“Kayak bocah saja. Apa tak ada permainan lainnya?” menguap.
“Bapak jangan mengganggu kapal-kapalku,” menatap serius.
“Belikan Bapak rokok. Ini uangnya.”
Suluh mengacuhkannya. Kembali meneruskan menulis surat-suratnya.
“Heh, belikan Bapak rokok. Apa kamu tak punya telinga?” mencoba duduk.
“Kenapa Bapak tak menikah lagi saja?”
Mata anak dan bapak itu saling bertemu.
“Kamu ngomong apa, anak bodoh? Ayo cepat belikan Bapak rokok.”
Suluh bangkit. Tak dihiraukan suara bapaknya.
“Oo… anak edan!”
*          *          *