Nasihat Pertama untuk Calon Sastrawan
Rasa
jengkel benar-benar telah meracuni kesabaranku dengan angkutan kota yang saat ini
memenjarakan tubuhku dalam perutnya. Di samping hidungku harus dilecehkan
dengan aneka bebauan yang campur-baur tak karuan; dari mulai keringat, minyak
angin, amis ikan, asap rokok, sampai parfum murahan, waktu juga seakan bukan
barang berharga bagi mereka. Seenak udelnya
lambat merayap demi mencari tambahan penumpang.
Andai
saja aku tipe tak punya malu dan tak jijik melewati para laki-laki bertampang
kasar yang berjubel di perut bus trans ini, pastilah aku sudah turun sedari
tadi. Harus kukunyah mentah- mentah kejengkelan ini.
