Rabu, 02 September 2015

Nasihat Pertama untuk Calon Sastrawan



Nasihat Pertama untuk Calon Sastrawan



Rasa jengkel benar-benar telah meracuni kesabaranku dengan angkutan kota yang saat ini memenjarakan tubuhku dalam perutnya. Di samping hidungku harus dilecehkan dengan aneka bebauan yang campur-baur tak karuan; dari mulai keringat, minyak angin, amis ikan, asap rokok, sampai parfum murahan, waktu juga seakan bukan barang berharga bagi mereka. Seenak udelnya lambat merayap demi mencari tambahan penumpang.
Andai saja aku tipe tak punya malu dan tak jijik melewati para laki-laki bertampang kasar yang berjubel di perut bus trans ini, pastilah aku sudah turun sedari tadi. Harus kukunyah mentah- mentah kejengkelan ini.