Kamis, 08 Januari 2015

Kucing yang Baik



Kucing yang Baik




Kami sedang butuh kucing. Bukan saja karena Minah yang sudah berkali menjerit-jerit karena memergoki tikus di dapur, atau bunyi berisiknya di atas plafon yang amat mengganggu, atau juga kotorannya yang tercecer di mana-mana. Populasi mereka benar-benar sudah meresahkan. Minah bahkan sudah empat kali membeli centong penanak nasi gara-gara kerap dicuri tikus-tikus yang amat kelaparan itu.
Kami menduga, tikus-tikus itu meloncat dari genting rumah Warsini di belakang rumah kami, lalu memanjat tembok belakang rumah yang sepertinya memang mudah dipanjati karena masih belum dipopok dengan semen. Mereka lantas berkeliaran di plafon, entah lewat jalan yang mana lalu berkeliaran menyatroni semua ruangan di rumah kami.
Perangkap tikus sudah bukan penyelesaian yang jitu lagi. Dulu, kami memang kerap melihat Warsini yang dengan bangga memperlihatkan dua tiga ekor tikus bodoh yang masuk perangkapnya. Tapi trik itu sekarang sudah tak manjur lagi. Sepertinya para tikus itu sudah paham apa yang dinamakan perangkap tikus. Mereka tidak bodoh-bodoh amat. Mereka seperti para koruptor negeri ini. Warsini juga pernah menggunakan racun tikus. Hanya saja kami khawatir andai nanti ada tikus yang kelenger di atas plafon. Akhirnya kami pun memutuskan ini. Memelihara kucing! “Kucing itu KPK,” kataku.
*             *          *