Jumat, 10 Oktober 2014

Manunggaling Kawulo Gusti



Manunggaling Kawulo Gusti: Sebuah Tinjauan Sekilas






Bahwa tujan akhir sufisme sebenarnya bukanlah tentang keakuan dan Yang Ilahi, meskipun jalan yang dilalui adalah usaha-usaha untuk mencapai kesatuan hamba dengan Tuhan. Senada dengan apa yang dimaksudkan oleh  GBPH H. Joyokusumo (adik kandung Sri Sultan Hemengkubuwono X) tentang makna manunggaling kawulo gusti, yang adalah pendekatan dan rasa ketuhanan yang ada dalam diri seseorang, bukannya bersatunya hamba dengan Tuhan secara harfiah.
Rasa adalah tolok-ukur pragmatis terhadap arti segala usaha mistik orang Jawa. Rasa membawa maksudnya dalam dirinya sendiri, rasa adalah keadaan yang puas tenang, ketentraman batin, ketiadaan ketegangan, sehingga memunculkan kebahagiaan baik bagi sang pelaku, lebih-lebih bagi semesta. Filsafat Yunani mengenal ini sebagai eudaimonia (Franz Magnis Suseno, 1984:133).  Rasa seolah menjadi pokok dari segala laku, menjadi ruh yang tak terpisahkan dari setiap tindakan.