Manunggaling Kawulo Gusti: Sebuah Tinjauan Sekilas
Bahwa tujan akhir sufisme sebenarnya bukanlah tentang keakuan dan Yang
Ilahi, meskipun jalan yang dilalui adalah usaha-usaha untuk mencapai kesatuan
hamba dengan Tuhan. Senada dengan apa yang dimaksudkan oleh GBPH H. Joyokusumo (adik kandung Sri Sultan
Hemengkubuwono X) tentang makna manunggaling kawulo gusti, yang adalah
pendekatan dan rasa ketuhanan yang ada dalam diri seseorang, bukannya
bersatunya hamba dengan Tuhan secara harfiah.
Rasa adalah tolok-ukur pragmatis terhadap arti segala usaha mistik orang
Jawa. Rasa membawa maksudnya dalam dirinya sendiri, rasa adalah keadaan yang
puas tenang, ketentraman batin, ketiadaan ketegangan, sehingga memunculkan
kebahagiaan baik bagi sang pelaku, lebih-lebih bagi semesta. Filsafat Yunani
mengenal ini sebagai eudaimonia (Franz Magnis Suseno, 1984:133). Rasa seolah menjadi pokok dari segala laku,
menjadi ruh yang tak terpisahkan dari setiap tindakan.